1.Astaghfirullaahal 'azhiima-lladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, wa atuubu ilaih.
2.Allaahumma innii zholamtu nafsii zhulman katsiiron, wa laa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta, faghfir lii maghfirotan min 'indika, warhamnii, innaka antal ghofuurur-rohiim.
3.Robbighfir lii wa tub 'alayya, innaka antat-tawwaabur-rohiim.
4."Allahumma anta robbii laa ilaaha illaa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbii, faghfirlii fainnahuu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta"
5.“Robbanaa, aamannaa, fagh-fir lanaa warhamnaa, wa anta khoirur-roohimiin.”
“Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik. (QS. Al Mu’minun [23]: 109) (7)
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(1) HR. Abu Dawud 2/85, At-Tirmidzi 5/569, Al-Hakim, dan menurut pendapatnya hadits di atas adalah shahih. Imam Adz-Dzahabi menyetujuinya 1/511, Al-Albani menyatakan hadits tersebut adalah shahih. Lihat pula Shahih At-Tirmidzi 3/182, Jami'ul Ushul li ahaditsir Rasul 4/389-390 dengan tahqiq Al-Arnauth.
Rasul Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang membaca: (doa di atas) maka Allah mengampuninya, sekalipun dia pernah lari dari perang.
(2) HR. Bukhari no. 834 dan Muslim no. 2705.
(3) HR. Ahmad, at-Tirmidzi, Abu Dawud, an-Nasa'i dalam al-Kubra, al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, Ibnu Hibban, ath-Thabrani dalam al-Kabiir. Dishahihhkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1342.
(5) HR. Bukhori no.6306”
(7) Disebutkan oleh Al-Qurthuby bahwa orang yang mengucapkan doa ini adalah sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu Bilal, Khobbab dan Shuhaib yang mereka adalah orang-orang lemah dari kaum muslimin. (lihat: Tafsir Al-Qurthubi 12/154)
1.“Robbanaa, aamannaa, fagh-fir lanaa warhamnaa, wa anta khoirur-roohimiin.”
2.“Robbigh-fir warham, wa anta khoirur-roohimiin.”
3. “Robbanaa zholamnaa anfusanaa, wa in lam tagh-fir lanaa wa tarhamnaa, lanakuunanna minal khoosiriin.”
4.anta waliyyunā fagfir lanā war-ḥamnā wa anta khairul-gāfirīn : Waktub lana fī hāżihid-dun-yā ḥasanataw wa fil-ākhirati innā hudnā ilaīk
5.“Allaahummagh-fir lii, warhamnii, wahdinii, wa 'aafinii, warzuqnii.”
6.“Allaahummagh-fir lii, warhamnii, wa 'aafinii, warzuqnii.”
7.“Robbanagh-fir lanaa dzunuubanaa, wa isroofanaa fii amrinaa, wa tsabbit aqdaamanaa, wan-shurnaa 'alal qoumil kaafiriin.
8.“Allaahummagh-fir lii khothii-atii wa jahlii, wa isroofii fii amrii, wa maa anta a'lamu bihi minnii. Allaahummagh-fir lii jaddii wa hazlii, wa khoto-ii wa 'amdii, wa kullu dzaalika 'indii. Allaahummagh-fir lii maa qoddamtu wa maa akh-khortu, wa maa asrortu wa maa a'lantu, wa maa anta a'lamu bihi minnii. Antal muqoddimu wa antal mu-akh-khiru, wa anta 'alaa kulli syai-in qodiir.”
9.Allaahummaghfir lii dzanbii kullahuu diqquhu wa jallah, wa awwalahu wa aakhirah, wa ‘alaaniyatahu wa sirrahu
10.“Robbanaa innanaa aamannaa, fagh-fir lanaa dzunuubanaa, wa qinaa 'adzaaban-naar.”
11.“Robbanaa innanaa sami'naa munaadiyan yunaadii lil iimaani an aaminuu birobbikum, fa-aamannaa, robbanaa fagh-fir lanaa dzunuubanaa, wa kaffir 'annaa sayyi-aatinaa, wa tawaffanaa ma'al abroor, robbanaa wa aatinaa maa wa 'adtanaa 'alaa rusulika, wa laa tukh-zinaa yaumal qiyaamah, innaka laa tukh-liful mii'aad.”
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(7) Disebutkan oleh Al-Qurthuby bahwa orang yang mengucapkan doa ini adalah sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu Bilal, Khobbab dan Shuhaib yang mereka adalah orang-orang lemah dari kaum muslimin. (lihat: Tafsir Al-Qurthubi 12/154)
(8) Ini adalah doa yang Allah subhanahu wa ta'ala perintahkan kepada nabi-Nya untuk mengucapkannya agar umatnya mengikutinya. (lihat: Tafsir Al-Qurthubi 12/157)
(9) Ini adalah doa Nabi Adam dan hawwa’ ketika mereka melakukan pelanggaran berupa memakan buah yang Allah subhanahu wa ta'ala larang kepada mereka berdua untuk memakannya namun oleh Iblis mereka berdua dirayu sehingga keduanya memakan buah dari pohon yang Allah subhanahu wa ta'ala larang, sehingga hilanglah cahaya yang tadinya menjadi penutup auratnya lalu mereka mencari dedaunan surga untuk menutupi aurat mereka, dan dikatakan daun yang menutupi mereka adalah daun Tin. Kemudian mereka berdua menyesal, mengakui kesalahan mereka, dan mereka bertobat lalu berdoa dengan doa ini. (Lihat: Tafsir Al-Qurthuby 7/180-181)
(10) Ini adalah doa Nabi Musa ‘alaihis salam ketika kaumnya telah melakukan kesalahan dengan menyembah anak sapi, lalu ia memilih 70 orang terbaik dari kaumnya untuk memohonkan ampunan kepada Allah subhanahu wa ta'ala atas dosa-dosa mereka lalu Allah subhanahu wa ta'ala menjanjikan untuk mereka hadir pada waktu yang telah ditentukan, dan ketika mereka hadir mereka berkata untuk memperlihatkan Allah kepada mereka, maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan azab kepada mereka berupa gempa yang membinasakan mereka. Maka Nabi Musa berdoa dengan doa ini, meminta ampunan dan rahmat kepada Dzat yang sebaik-baiknya pemberi ampunan, meminta kebaikan di dunia maupun di akhirat dengan bertaubat kepada-Nya. (lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 304-305)
(15) H.R. Muslim no. 2697
(16) H.R. Muslim no. 2697
(23) H.R. Bukhari no. 6398 dan Muslim no. 2719
Catatan: Terdapat perselisihan ulama tentang waktu diucapkannya doa ini. Namun, disebutkan di dalam Shahih Muslim dari bahwa Nabi membaca doa tersebut antara bacaan tasyahud dan salam. Wallahu a’lam. (lihat: Subulus salam Li Ash-Shan’aniy 2/715)
(24) HR. Muslim no. 483.
(25) At-Thahir Ibnu ‘Asyur mengatakan bahwa doa ini diucapkan oleh orang-orang yang bertakwa yang disebutkan pada ayat sebelumnya yang mereka menundukkan diri mereka dari segala macam syahwat yang kemudian mereka mendapatkan berbagai macam kenikmatan berupa surga, istri-istri yang suci dan keridoan Allah. Dan beliau juga menyebutkan bahwasanya hendaknya orang yang berdoa untuk melakukan segala cara macam cara yang menjadikannya sebagai wasilah dari dikabulkannya doa dan menunjukkannya kepada ketakwaan, dan Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan memberikan balasan orang yang berdoa tanpa beramal. (lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir 3/185)
(26)Diantara hal yang disukai oleh para ulama adalah berdoa di dalam shalat (baik shalat fardu ataupun sunah) dengan doa-doa yang tertulis di dalam Al-Qur’an. Menurut sebagian ulama seperti halnya ketika seseorang berada di akhir shalat sebelum salam, hendaknya dia berdoa dengan doa-doa yang bersumber dari Al-Qur’an, diantaranya adalah doa ini. (Lihat: ‘Aunul Ma’bud Li Al-‘Adzim Abadi 3/98)
(27)Ini adalah doanya Ulul Albab yaitu orang-orang yang menggunakan akalnya untuk berpikir tentang alam semesta yang menunjukkan akan keagungan Allah subhanahu wa ta'ala, agungnya kekuasaan-Nya, kesempurnaan dan seimbang ciptaan-Nya, kehebatan ciptaan-Nya, luas ilmu-Nya. Yang kemudian mereka berdoa dengan bertawassul dengan keimanan yang dianugerahkan kepada mereka yaitu beriman kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam agar dosa-doa mereka diampuni dan dihapuskan kesalahan-kesalahan mereka. Karena kebaikan menghapuskan keburukan, dan orang yang dianugerahi keimanan maka dia akan diberikan keamanan yang sempurna. (lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 161)
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(30) H.R. Ahmad no.3823 dan dishahihkan oleh Al-Albani.
(31) H.R. Muslim no. 771
Ini menunjukan bahwa akhlak bisa dirubah dan diusahakan menjadi akhlak yang labih baik. Adapun cara mendapatkan akhlak yang baik adalah yang pertama dengan banyak berdoa kepada Allah, dan yang kedua dengan berusaha sebagaimana Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Dan barangsiapa yang berusaha bersabar maka Allah akan menjadikannya menjadinya bersabar. Dan tidaklah seseorang diberikan anugrah yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran” (HR Al-Bukhari no 1469)
Hadits menggabungkan 2 sebab kesabaran, yang pertama berusaha dan berlatih diri untuk sengaja bersabar, yang kedua Allah mengnugrahkan akhlak kesabaran kepada orang yang berusaha untuk bersabar.
(32) H.R. Nasa’i no. 896 dan dishahihkan oleh Al-Albani
(33) H.R. Tirmidzi no. 3591 dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ no. 1298
Allaahummaj’al fii qalbii nuuraa, wa fii lisaanii nuuraa, wa fii sam’ii nuuraa, wa fii basharii nuuraa, wa min fauqii nuuraa, wa min tahtii nuuraa, wa ‘an yamiinii nuuraa, wa ‘an syimaalii nuuraa, wa min baini yadayya nuuraa, wa min khalfii nuuraa, waj’al fii nafsii nuuraa, wa a’dzim lii nuuraa
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(34) HR. Muslim no. 763. Semua makna cahaya ini tertuju kepada hidayah, penjelasan dan penerang kepada kebenaran dan sumber cahaya ini sebagaimana terdapat dalam firman Allah ﷻ yang artinya “Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS An-Nur :35) (lihat Faidh Al-Qodir 2/136).
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(38) Ini adalah potongan dari hadits yang panjang. HR Ahmad no 1997, Ibnu Majah no 3830, Abu Daud no 1510, dan dishahihkan oleh para pentahqiq Musnad al-Imam Ahmad.
“Robbanagh-fir lanaa wa li-ikhwaanina-lladziina sabaquunaa bil-iimaan, wa laa taj'al fii quluubinaa ghillan lilladziina aamanuu, robbanaa innaka ro-uufun rohiim.”
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(39) Ini adalah doa kaum muslimin yang datang setelah kaum Muhajirin dan Anshor. At-Thohir Ibnu’Asyur mengatakan bahwa ayat yang menyebutkan doa di atas menunjukkan bahwasanya kewajiban bagi kaum muslimin adalah untuk menyebutkan kebaikan kaum muslimin pendahulu mereka, dan juga wajib bagi mereka untuk mencintai dan mengagungkan kaum Muhajirin dan Anshor. (lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir 28/98)
1. “Robbanagh-fir lii wa liwaalidayya wa lil mu'miniina yauma yaquumul hisaab.”
2. “Robbigh-fir lii wa liwaalidayya wa liman dakhola baitiya mu'minan wa lil mu'miniina wal mu'minaati wa laa tazidizh-zhoolimiina illaa tabaaroo.”
3.“Robbir-hamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo.”
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(40)Doa ini termaktub pada surah Al-Isra ayat: 24 setelah Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan hamba-hambanya untuk mengesakan-Nya, Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan hamba-Nya untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, dan di antara bentuk baktinya seorang hamba kepada kedua orang tuanya dengan mendoakan keduanya.])
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(45)‘Afaf adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan dan berhenti dari melakukan perbuatan tersebut adapun Ghina adalah kekayaan hati dan merasa cukup dari apa yang dimiliki manusia (tidak meminta-minta). (Syarah Sahih Muslim karya An-Nawawy 17/41). Al-‘Afaf adalah sifat menjaga diri dari ketamakan terhadap kehidupan dunia (lihat Faid Al-Qodir 2/137)
(46)HR. Muslim no. 2721.
Robbisy-roh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wah lul 'uqdatan min lisaanii, yafqohuu qoulii.
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(49) Ini adalah doa Nabi Musa ketika diperintahkan pergi untuk mendakwahi Fir’aun. As-Sa’dy menjelaskan maksud dari doa ini: lapangkanlah dadaku agar aku mampu menahan segala ujian berupa ucapan maupun perbuatan, karena dada jika sudah terasa sempit maka tidak mungkin bisa memberikan hidayah kepada yang lainnya. dan juga meminta agar Allah subhanahu wa ta'ala memudahkanku dalam setiap langkah yang aku tempuh dan mudahkan segala hambatan yang ada di hadapanku”. (lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 504).
(55) Ini adalah doa Nabi Yunus tatkala ia terburu-buru meninggalkan kaumnya sebelum Allah subhanahu wa ta'ala perintahkan, kemudian dia menaiki perahu bersama orang-orang yang ternyata perahu tersebut akan tenggelam lalu mereka mengundi untuk menentukan siapa di antara mereka yang akan dilempar ke laut karena mereka khawatir akan tenggelam semua jika semuanya tetap berada di atas perahu, ternyata undian tersebut mengenai Nabi Yunus lalu ia dilempar ke laut dan akhirnya ditelah oleh ikan paus dan membawanya ke kegelapan laut, maka saat itulah ia berdoa dengan doa ini yaitu dengan pengakuan akan kesempurnaan Uluhiyyah Allah subhanahu wa ta'ala dan mensucikan-Nya dari segala kekurangan, dan pengakuannya atas kezaliman dirinya dan kejahatannya. (lihat: Tafsir As-Sa’dy: 529)
Allaahuma innii as’aluka minal khairi kullihi ‘aajilihi wa aajilih maa ‘alimtu minhu wa maa lam a’lam, wa a’uudzu bika minasy syarri kullihi ‘aajilihi wa aajilih maa ‘alimtu minhu wa maa lam a’lam, Allaahumma innii as’aluka min khairi maa sa’alaka ‘abduka wa nabiyyuk, wa a’uudzu bika min syarri maa ‘aadza bihi ‘abduka wa nabiyyuk, Allaahumma innii as’alukal jannata wa maa qarraba ilaihaa min qaulin aw ‘amal, wa a’uudzu bika minan naari wa maa qarraba ilaihaa min qaulin aw ‘amal, wa as’aluka an taj’ala kulla qadhaa’in qadhaitahu lii khairaa
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(56) HR. Ibnu Majah dan dinilai Sahih oleh Al-Albani dalam Sahih Ibnu Majah 2/327.
Allaahumma bi’ilmikal ghaibi wa qudratika ‘alal khalqi ahyinii maa ‘alimtal hayaata khairan lii, wa tawaffanii idzaa ‘alimtal wafaata khairan lii, Allaahumma wa as’aluka khasyyataka fil ghaibi wasy syahaadah, wa as’aluka kalimatal haqqi fir ridhaa wal ghadhab, wa as’alukal qashda fil faqri wal ghinaa, wa as’aluka na’iiman laa yanfadz, wa as’aluka qurrata ‘ainin laa tanqathi’, wa as’alukar ridhaa ba’dal qadhaa’, wa as’aluka bardal ‘aisyi ba’dal maut, wa as’aluka ladzdzatan nadzori ilaa wajhik, wasy syauqa ilaa liqaa’ik, fii ghairi dharaa’an mudharrah, wa laa fitnata mudhillah, Allaahumma zayyinnaa bi ziinatil iimaan, waj’alnaa hudaatan muhtadiin
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(57)Maksudnya “Aku meminta kepadamu untuk selalu mengucapkan perkataan yang benar dalam kondisi manusia ridha atau marah dengannya sehingga aku tidak berbuat kemunafikan atau dalam kondisi aku marah dan ridho jadikanlah ucapanku selalu benar sehingga kemarahan tidak mempengaruhiku untuk tidak berbicara melainkan yang benar saja (lihat Faidh Al-Qodir 2/146)
(58)HR. An-Nasa’I dan dinilai Sahih oleh Al-Albani dalam Sahih An-Nasa’I 1/280. Dalam lafadz “Pemberi petunjuk yang mendapatkan petunjuk” disifati demikian karena seorang pemberi petunjuk atau dai jika dirinya sendiri belum mendapatkan petunjuk maka tidak layak baginya untuk memberikan petunjuk kepada orang lain karena dia justru akan menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan tanpa ia sadari (lihat Faidh Al-Qodir 2/146)
“Robbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota a'yun, waj'alnaa lil muttaqiina imaamaa.”
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(60)Penyejuk pandangan (hati) di dalam menjalankan ketaatan dan perintah Allah. (lihat: Fathul Bari Li Ibnu Hajar 8/491)
(61) Ini adalah doa hamba-hamba Allah subhanahu wa ta'ala yang mereka meminta kebaikan untuk pasangan dan keturunan mereka, dan mereka juga meminta agar dijadikan teladan yang bisa diikuti oleh orang-orang yang bertakwa. (lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir 19/83)
1.“Robbi hab lii minash-shoolihiin.”
2.“Robbi hab lii mil-ladunka dzurriyyatan thoyyibah, innaka samii'ud-du'aa'.”
3.“Robbi laa tadzarnii fardan, wa anta khoirul waaritsiin.”
4.“Robbi auzi'nii an asykuro ni'matakallatii an'amta 'alayya wa 'alaa waalidayya wa an a'mala shoolihan tardhoohu, wa ashlih lii fii dzurriyyatii, innii tubtu ilaika wa innii minal muslimiin.”
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(63) Ini adalah doa Nabi Zakaria yang Allah subhanahu wa ta'ala beri ujian berupa tidak memiliki keturunan hingga ia berusia tua, sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta'ala sebutkan dalam firman-Nya,
ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَه زَكَرِيَّا ۚ﴿۲﴾ إِذ نادى رَبَّهُ نِداءً خَفِيًّا ﴿٣﴾ قالَ رَبِّ إِنّي وَهَنَ العَظمُ مِنّي وَاشتَعَلَ الرَّأسُ شَيبًا وَلَم أَكُن بِدُعائِكَ رَبِّ شَقِيًّا ﴿٤﴾ وَإِنّي خِفتُ المَوالِيَ مِن وَرائي وَكانَتِ امرَأَتي عاقِرًا فَهَب لي مِن لَدُنكَ وَلِيًّا ﴿٥﴾ يَرِثُني وَيَرِثُ مِن آلِ يَعقوبَ وَاجعَلهُ رَبِّ رَضِيًّا﴿٦﴾
“Yang dibacakan ini adalah penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.” (QS. Maryam: 2-6)
Dan Al-Qurthubi menjelaskan dari anak yang baik ini adalah keturunan yang saleh lagi diberkahi, dan maksud dari Allah subhanahu wa ta'ala mendengarkan doa adalah Allah subhanahu wa ta'ala maha mengabulkan doa. Dan ayat ini menunjukkan bahwa berdoa meminta anak adalah sunnahnya para rasul. (lihat: Tafsir Al-Qurthuby 4/72)
(64) doa ini termaktub dalam surah al-Ahqaf: 15,
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".”
Di dalamnya Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan hambanya untuk berbakti kepada kedua orang tuanya bahkan hingga dewasa untuk tetap berbakti kepada kedua orang tuanya. At-Thahir ibnu ‘Asyur menjelaskan tentang doa ini bahwa artinya adalah meminta pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta'ala untuk menambahkan pada dirinya bisa berbuat baik kepada kedua orang tuanya dengan memberikannya ilham untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan kepadanya dan juga kepada kedua orang tuanya. (lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir 26/31)
Beliau menjelaskan mengapa disebutkan penyebutan “dewasa” dalam berbakti kepada kedua orang tuanya karena saat itu seorang anak lelaki memiliki tanggungan dalam mencari rezeki untuk istri anak, dan juga anak wanita memiliki tanggungan yang banyak dalam mengurus suami, rumah dan anak, sehingga pada usia dewasa adalah waktu perkiraannya disibukkannya mereka dengan tanggungan-tanggungan dan menyebabkan lali dalam berbakti kepada kedua orang tua, maka dengan ayat ini mereka diperingatkan agar tidak luput dari berbakti kepada kedua orang tua. Dan juga dalam ayat ini mereka diperintahkan untuk mendoakan kedua orang tuanya. (lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir 26/32)
Dan beliau juga menjelaskan selain mereka diperintahkan untuk mendoakan kedua orang tuanya maka jangan sampai mereka lalai dari memikirkan ke depannya dalam memperhatikan keturunan mereka sebagaimana orang tuanya dahulu memperhatikan mereka, agar kelak mereka mendapatkan kebaikan anak-anak mereka sebagaimana mereka berbuat baik kepada orang tuanya.( lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir 26/33).
“U'iidzu kumaa bikalimaatillaahit-taammah, min kulli syaithoonin wa haammah, wa min kulli 'ainin laammah.”
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(65)Termasuk segala sesuatu yang mendatangkan keburukan. (lihat: Fathul Bari Li Ibnu hajar 6/410)
(66)Seorang muslim hendaknya memohon perlindungan untuk anaknya dari gangguan setan dengan doa seperti yang pernah dipraktekkan Nabi, ketika mendoakan kedua cucunya, Al-Hasan dan Al-Husain.
Ibnu Abbas menceritakan, bahwa Rasulullah membacakan doa perlindungan untuk kedua cucunya,
أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
“U'iidzukumaa bikalimaatillaahit-taammah, min kulli syaithoonin wa haammah, wa min kulli 'ainin laammah.”
“Aku memohon perlindungan untuk kalian berdua, dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari semua godaan setan dan binatang pengganggu, dan dari pandangan mata buruk.” (H.R. Abu Dawud no.4737, Tirmidzi no. 2060, Ibnu Majah no.3525 dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Robbanaa taqobbal minnaa, innaka antas-sami'ul 'aliim. Wa tub 'alainaa, innaka antat-tawwaabur-rohiim.
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(67) Ini adalah doa Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ketika meninggikan pondasi Ka’bah. Ibnu Katsir dalam tafsirnya membawakan riwayat dari Wuhaib bin Al-Ward ketika membaca ayat ini dia menangis lalu berkata:
يَا خَلِيلَ الرَّحْمَنِ، تَرْفَعُ قَوَائِمَ بَيْتِ الرَّحْمَنِ وَأَنْتَ مُشْفق أَنْ لَا يَتَقَبَّلَ مِنْكَ
“wahai kekasih Ar-Rahman, engkau membangun pondasi-pondasi rumah Ar-Rahman sedangkan engkau khawatir tidak diterima darimu.”
Dan juga beliau menyebutkan firman Allah subhanahu wa ta'ala yang lain yang menjelaskan tentang keadaan orang-orang yang beriman yang ikhlas ketika melakukan amalan baik hati-hati mereka khawatir tidak diterima amalan mereka,
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” QS. Al-Mu’minun: 60 (lihat: Tafsir Ibnu Katsir 1/427)
rabbanā 'alaika tawakkalnā wa ilaika anabnā wa ilaikal-maṣīr Rabbanā lā taj'alnā fitnatal lillażīna kafarụ wagfir lanā rabbanā, innaka antal-'azīzul-ḥakīm
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(68) Ini adalah doa Ibrahim dan orang-orang beriman yang bersamanya.
Al-Qurthuby menjelaskan maksud dari doa ini adalah meminta kepada Allah subhanahu wa ta'ala agar jangan menjadikan musuh mereka mengalahkan mereka sehingga musuh-musuh tersebut menyangka bahwasanya mereka di atas kebenaran dan terfitnah dengan persangkaan tersebut. (lihat: Tafsir Al-Qurthubi 18/57)
Robbi hab lii hukman, wa alhiqnii bish-shoolihiin. Waj'al lii lisaana shidqin fil aakhiriin. Waj'alnii min waro-tsati jannatin-na'iim.
(83) [And he said], "My Lord, grant me authority and join me with the righteous
(84) And grant me a reputation of honor among later generations
(85) And place me among the inheritors of the Garden of Pleasure
Robbanaa aatinaa min ladunka rohmatan, wa hayyi' lanaa min amrinaa rosyadaa.
“Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami”. (Al Kahfi [18]: 10) ([() Doa ini diucapkan oleh Ashabul kahfi yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala ketika mereka berlindung di dalam gua dari keburukan kaumnya. As-Sa’dy menjejelaskan makna doa ini: “Berikanlah kami rahmatMu” yang dengannya kami istiqomah dan terlindungi dari keburukan dan mudahkan lah untuk kami sebab yang mengantarkan kami kepada petunjukmu, dan perbaiki perkara agama kami dan dunia kami. Dalam doa ini mereka menggabungkan dari berlari dari fitnah menuju tempat untuk bersembunyi dari fitnah, menggabungkan antara ketundukan dan permintaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala agar dimudahkan perkara mereka, dan tidak bersandar kepada diri mereka sendiri dan kepada manusia oleh karenanya Allah subhanahu wa ta'ala mengabulkan doa mereka. (lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 471)]).
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(69) Doa ini diucapkan oleh Ashabul kahfi yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala ketika mereka berlindung di dalam gua dari keburukan kaumnya. As-Sa’dy menjejelaskan makna doa ini: “Berikanlah kami rahmatMu” yang dengannya kami istiqomah dan terlindungi dari keburukan dan mudahkan lah untuk kami sebab yang mengantarkan kami kepada petunjukmu, dan perbaiki perkara agama kami dan dunia kami. Dalam doa ini mereka menggabungkan dari berlari dari fitnah menuju tempat untuk bersembunyi dari fitnah, menggabungkan antara ketundukan dan permintaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala agar dimudahkan perkara mereka, dan tidak bersandar kepada diri mereka sendiri dan kepada manusia oleh karenanya Allah subhanahu wa ta'ala mengabulkan doa mereka. (lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 471).
"Allahumma-qsim lana min khashyatika ma tahulu bihi bainana wa baina ma'asika, wa min ta'atika ma tuballighuna bihi jannataka, wa minal-yaqini ma tuhawwinu 'alaina bihi masa-'ibad-dunya. Allahumma matti'na biasma'ina, wa absarina, wa quwwatina ma ahyaitana, waj'alhul-waritha minna, waj'al tharana 'ala man zalamana, wansurna 'ala man 'adana, wa la taj'al musibatana fi dinina, wa la taj'alid-dunya akbara hammina, wa la mablagha 'ilmina, wa la tusallit 'alaina man-la yarhamuna"
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(71) HR. Tirmidzi no.3502, HR, An-Nasa’I no. 6/106, di hasankan oleh Al-Albany dalam Sahih At-Tirmidzi 3/168.])
Allaahumma (Robbanaa) aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa 'adzaaban-naar.
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(72) As-Syaikh As-Sa’dy dalam tafsirnya mengatakan yang dimaksud dengan kebaikan di dunia adalah segala kebaikan yang didapatkan oleh seorang hamba berupa rezeki banyak yang halal, istri salehah, anak yang menyejukkan mata, rasa lapang, ilmu yang bermanfaat, amalan yang saleh, dan yang lainnya berupa yang diinginkan dan dicintai. Adapun kebaikan akhirat adalah keselamatan dari azab di kubur, ketika di padang mahsyar, dan selamat dari azab neraka serta mendapatkan keridhoan Allah subhanahu wa ta'ala, kemenangan dengan mendapatkan kenikmatan yang kekal, dengan dengan Rabb yang maha pengasih. Dan doa ini adalah doa yang paling sempurna dan paling mencakup terhadap apa yang dibutuhkan hamba. Oleh karenanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memperbanyak berdoa dengan doa ini. (lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 92) ])
“Allaahumma innii as-aluka fi'lal khoiroot, wa tarkal munkaroot, wa hubbal masaakiin. Wa idzaa arod-ta bi'ibaadika fitnatan, faq-bidh-nii ilaika ghoiro maftuun wa asaluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wa hubba ‘amalin yuqorribuny ila hubbika”
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(74) HR. Riwayat Ahmad no. 22109 dan Tirmidzi no. 3235 dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih At-Tirmidzi 3/318.
Allaahumma innii as-aluka minal khoiri kullihi 'aajilihi wa aajilihi, maa 'alimtu minhu wa maa lam a'lam,
Wa a'uudzu bika minasy-syarri kullihi 'aajilihi wa aajilihi, maa 'alimtu minhu wa maa lam a'lam,
Allaahumma innii as-aluka min khoiri maa sa-alaka 'abduka wa nabiyyuka, wa a'uudzu bika min syarri maa 'aadza bihi 'abduka wa nabiyyuka,
Allaahumma innii as-alukal jannata wa maa qorroba ilaihaa min qoulin au 'amal, wa a'uudzu bika minan-naari wa maa qorroba ilaihaa min qoulin au 'amal,
Wa as-aluka an taj'ala kulla qodhoo-in qodhoitahu lii khoiron.
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
rabbanā lā tu`ākhiżnā in nasīnā au akhṭa`nā, rabbanā wa lā taḥmil 'alainā iṣrang kamā ḥamaltahụ 'alallażīna ming qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih, wa'fu 'annā, wagfir lanā, war-ḥamnā, anta maulānā fanṣurnā 'alal-qaumil-kāfirīn
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(76) Arti dari رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
Syaikh As-Sa’dy menjelaskan terdapat perbedaan antara an-nisyan dan al-khotho’, an-nisyan adalah lupanya hati dari apa yang diperintahkan sehingga ia meninggalkan apa yang diperintahkan karena lupa. Adapun al-khotho’ adalah bermaksud untuk melakukan perbuatan yang diperbolehkan kemudian terjatuh ke dalam perbuatan yang tidak diperbolehkan . dan keduanya ini dimaafkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala pada umat ini karena rahmat dan kebaikan-Nya. (lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 120)
(77)Berkata Syaikh As-Sa’dy bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala telah meringankan kepada umat ini pada perintah-perintah dalam bersuci dan perkara-perkara ibadah yang tidak Allah subhanahu wa ta'ala ringankan kepada umat sebelumnya. (lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 120)
(78) Dengan ampunan Allah subhanahu wa ta'ala seorang hamba bisa terhindar dari perkara-perkara yang dibenci dan perkara-perkara buruk, dan dengan rahmat Allah subhanahu wa ta'ala seorang hamba bisa memperolah perkara-perkara yang baik. (lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 120)
Rabbanā lā tuzig qulụbanā ba'da iż hadaitanā wa hab lanā mil ladungka raḥmah, innaka antal-wahhāb
[Who say], "Our Lord, let not our hearts deviate after You have guided us and grant us from Yourself mercy. Indeed, You are the Bestower
English: Saheeh International, Qur'an 3:8
Show the takhrij
(79) Asy-Syaikh As-Sa’dy menjelaskan tentang ayat ini maksudnya adalah: ya Allah janganlah Engkau palingkan kami dari kebenaran disebabkan kebodohan kami atau karena kerasnya hati kami, akan tetapi jadikan lah kami orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan tetapkanlah kami untuk berada di atas hidayah-Mu. (lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 122)
Our Lord, we have believed in what You revealed and have followed the messenger Jesus, so register us among the witnesses [to truth]
English: Saheeh International, Qur'an 3:53
Show the takhrij
(80) Doa ini diucapkan oleh Al-Hawariyun penolong Nabi Isa, lalu mereka berdoa bahwasanya mereka beriman dan mengikuti Nabi Isa dan mereka meminta agar dicatat bersama Syahidin. Al-Qurthubi membawakan riwayat dari Ibnu ‘Abbas maksudnya mereka meminta agar dituliskan nanti bersama dengan umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, yang artinya tetapkanlah nama kami bersama nama-nama mereka dan masukkan kami ke dalam golongan mereka (Lihat: Tafsir Al-Qurthuby 4/98), adapun As-Sa’dy dalam tafsirnya menjelaskan maksudnya meminta kepada Allah subhanahu wa ta'ala agar mereka dicatat bersama orang-orang yang bersaksi akan keesaan Allah subhanahu wa ta'ala dan membenarkan Rasul-Nya dengan menolongnya(lihat: Tafsir As-Sa’dy hal:132).
1.“A'uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim.”
2.“Robbi a'uudzu bika min hamazaatisy-syayaathiin, wa a'uudzu bika robbi an yah-dhuruun.”
3.wa'audzu bika 'an yatakhabbatani alshshaytan 'inda almaut
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(81) H.R. Ahmad no. 27205 (Bukhari no. 6048 dan Muslim no.2610
(82)Maksudnya: dari bahaya setan, was-wasnya, dan dari dimasukkannya akidah yang rusak ke dalam hati. (lihat: Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1715).
(83) Yaitu dalam salatku, bacaan Al-Quranku, dzikirku, doaku, dan dalam kematianku. (lihat: Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1716) ])"
(84) HR. Ahmad No. 8667, Abu Dawud No. 1552 dan dishahihkan al-Albani
Al-Khathabi menjelaskan hadis di atas: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari disesatkan setan ketika datang kematian, bentuknya adalah setan mengganggunya ketika beliau hendak meninggal dunia, lalu setan menyesatkannya. Sehingga menghalanginya dari bertaubat atau menutupi dirinya sehingga tidak mau memperbaiki urusannya atau memohon maaf dari kedzaliman yang pernah dia lakukan. Atau membuat dia merasa putus asa dari rahmat Allah, atau membuat dia benci dengan kematian dan merasa sedih meninggalkan hartanya, sehingga dia tidak ridha dengan keputusan Allah berupa kematian dan menuju akhirat. Sehingga dia akhiri hidupnya dengan keburukan, lalu dia bertemu Allah dalam kondisi Dia murka kepadanya.
Kemudian beliau juga membawakan sebuah riwayat bahwa tidak ada kesempatan yang lebih diperhatikan setan untuk menyesatkan manusia, selain ketika kematiannya. Dia akan mengundang rekan-rekannya, “Kumpul di sini, jika kalian tidak bisa menyesatkannya pada hari ini, kalian tidak lagi bisa menggodanya selamanya.” (Lihat : Aunul Ma’bud 4/287)
Allāhumma innī a‘ūdhu bika min ‘adhābi jahannam, wa min ‘adhābil-qabr, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāt, wa min sharri fitnatil-masīḥid-dajjāl.
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Guidance: Pertama :
Menghafal 10 ayat pertama dari surat al-Kahfi atau 10 ayat terakhir dari surat al-Kahfi(86)
Show the takhrij
(86) Berdasarkan sabda Nabi shallallahu álaihi wasallam
مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ
“Barang siapa yang menghafal 10 ayat pertama dari surat al-Kahfi maka ia akan dilindungi dari Dajjal” (HR Muslim no 809)
(87) HR. Muslim No. 588
Dalam riwayat Bukhori:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Dan dari adzab neraka, dan dari fitnah Dajjal”
Karena fitnah Dajjal sangat dahsyat, bisa mengguncang keimanan orang yang lemah, karena Allah memberikannya beberapa kemampuan yang luar biasa yang hal tersebut adalah fitnah bagi orang-orang yang beriman, di antaranya:
Pertama: Dia memiliki surga dan neraka, yang mana surganya adalah neraka dan nerakanya adalah surga.
الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى، جُفَالُ الشَّعَرِ، مَعَهُ جَنَّةٌ وَنَارٌ، فَنَارُهُ جَنَّةٌ وَجَنَّتُهُ نَارٌ
“Dajjal cacat matanya yang kiri, keriting rambutnya, bersamanya surga dan nerakanya, nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka.” (HR. Muslim no. 2934)
Kedua: Menghidupkan kembali orang yang ia bunuh dengan izin Allah sebagiamana Dajjal membunuh seorang pemuda lalu ia menghidupkannya kembali.
Ketiga: Bisa memerintahkan langit untuk menurunkan hujan juga memerintahkan bumi untuk mengeluarkan tumbuhan.
Keempat: Dan kemampuan-kemampuan lainnya yang Allah berikan untuk menguji para hamba.
Karenanya Nabi menyuruh kita agar menjauh Dajjal jika ia telah keluar, jangan sampai bertemu dengannya karena bisa jadi kita terpengaruh dengan syubhat-syubhatnya dan kesaktiannya.
1.Wajnubni wabaniyya an na’budal ashnaam
2.“Allaahumma innii a'uudzu bika an usyrika bika wa anaa a'lam, wa astagh-firuka limaa laa a'lam.”
3.“Allaahumma innaa na'uudzu bika min an nusyrika bika syai-an na'lamuhu, wa nastagh-firuka limaa laa na'lam.”
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(88) H.R. Bukhari no. 716 di dalam Adab Al-Mufrad dan dishahihkan oleh Al-Albani
(89) H.R. Ahmad no. 19606 dan dinyatakan hasan lighairihi oleh Al-Albani di dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 36
Allaahumma innii a’uudzu bi ridhaaka min sakhathik, wa bi mu’aafaatika min ‘uquubatik, wa a’uudzu bika minka, laa ahshii tsanaa’a ‘alaika anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsik
(O Allah, I take refuge within Your pleasure from Your displeasure and within Your pardon from Your punishment, and I take refuge in You from You. I cannot enumerate Your praise, You are as You have praised Yourself.)
English: Hisn al-Muslim (hisnmuslim.com), item 47
Show the takhrij
(90) Maksudnya berlindung dengan rahmat-Mu dari hukuman-Mu (Faidh Al-Qodir 2/139),
(91) HR. At-Tirmidzi no. 3566 dan dinilai Sahih oleh Al-Albani dalam Sahih At-Tirmidzi 3/180, Al-Irwa’ 2/175.
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(93)Ini adalah doa yang diucapkan oleh hamba-hamba Ar-Rahman, mereka dengan ketaatannya tetap merasa takut akan azab Allah subhanahu wa ta'ala sehingga mereka berdoa agar dijauhkan dari azab neraka yang kekal. (lihat: Tafsir Al-Qurthuby 13/72).
(94) H.R. Abu Dawud no. 792, Ibnu Majah no. 910 dan dishahihkan oleh Al-Albani
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(95) Ini adalah doa kaumnya Nabi Musa ‘alaihis salam, ketika Nabi Musa memerintahkan kepada kaumnya untuk bertawakkal kepada Allah subhanahu wa ta'ala jika mereka benar-benar beriman maka kaumnya pun mengucapkan doa ini.
Al-Qurthuby menjelaskan maksud dari doa mereka “janganlah Engkau jadikan kami fitnah bagi kaum yang'zalim” adalah jangan engkau menangkan mereka atas kami, sehingga hal tersebut bisa menjadi fitnah bagi agama kami, atau maksudnya jangan kau menguji kami dengan mengazab kami melalui tangan-tangan mereka. (lihat: Tafsir Al-Qurthuby 8/370)])
Allaahumma innii a'uudzu bika min jaarissuu', wa min zaujin tusyayyibunii qoblal masyiib, wa min waladin yakuunu 'alayya robban, wa min maalin yakuunu 'alayya adzaaban, wa min kholiilin maakirin, 'ainuhu taroonii, wa qolbuhu yar'aanii, in ro'aa hasanatan dafanahaa, wa idzaa ro'aa sayyi'atan adzaa'ahaa.
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(96) HR. Thabrany no. 1339 sanadnya dinilai Jayyid oleh Al-Albany dalam As-Silsilah As-Sahihah 3/377.
Allaahumma innii a'uudzu bika min zawaali ni'matik, wa tahawwuli 'aafiyatik, wa fujaa-ati niqmatik, wa jamii'i sakhathik.
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(98) HR. Muslim no. 2739. Berlindung dari segala murka maksudnya berlindung dari sebab-sebab yang mendatangkan kemurkaan, apabila sebab-sebab tersebut hilang maka ia akan mendapatkan lawan dari apa yang dia berlindung darinya (lihat Faidh Al-Qodir 2/110).
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(99) Ini jika ditinjau dari kejadian yang Allah tetapkan di dunia, adapun jika sisi penetapan Allah terhadap taqdir tersebut maka tidak ada taqdir yang buruk karena semua ketetapan dan hukum Allah ﷻ pasti ada hikmahnya, entah kita mengetahuinya atau tidak mengetahuinya (lihat Faidh Al-Qodir 5/201_)/p>
(100) HR. Bukhori no.6374, Muslim no.2707.
1.Allaahumma innii a’uudzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi wal bukhli wa ‘audzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahya wal mamaat”
2.Allaahumma innii a’uudzu bika minal kasali wal haram, wa min fitnatil qabri wa ‘adzaabil qabr, wa min fitnatin naari wa ‘adzaabin naar, wa min syarri fitnatil ghinaa wa a’uudzu bika min fitnatil faqr, wa a’uudzubika min fitnatil masiihid dajjaal
Allaahummaghsil ‘annii khathaayaaya bi maa’its tsalji wal barad, wa naqqi qalbii minal khathaayaa kamaa naqqaitats tsaubal abyadhu minad danas, wa baa’id bainii wa baina khathaayaaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wal maghrib
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(101)Maksud dari fitnah kehidupan adalah ujian berupa kenikmatan dunia dan syahwatnya berupa wanita harta dan anak-anak, dan fitnah dunia terbesar adalah seseorang meninggal dalam keadaan su’ul khotimah adapun fitnah kematian adalah ujian ketika di alam kubur ada pendapat juga yang mengatakan ujian ketika sakaratul maut (Syarhu Ad-Dua’ min Al-Kitab wa As-Sunnah karya Mahir bin Abdul Hamid 1/305).
(102) HR. Bukhori no.2823, Muslim no.2706
(103) Diantara fitnah kaya adalah keangkuhan, tindakan melampaui batas, sombong dan menyalurkan harta pada hal-hal yang berbau kemaksiatan adapun fitnah kemiskinan adalah hasad terhadap orang kaya, tamak terhadap harta mereka, merendahkan diri di hadapan mereka sehingga mengorbankan harga diri dan agama serta tidak adanya keridhoan terhadap apa yang sudah Allah ﷻ tentukan (lihat Faidh Al-Qodir 2/127)
(104) HR. Bukhori no. 6368.
Allaahumma innii a'uudzu bika minal hammi wal hazani, wal 'ajzi wal kasali, wal bukhli wal jubni, wa dhola'id-daini wa gholabatir-rijaal.
(O Allah, I take refuge in You from anxiety and sorrow, weakness and laziness, miserliness and cowardice, the burden of debts and from being over powered by men.)
Allaahumma innii a’uudzu bika min syarri maa ‘amiltu, wa min syarri maa lam a’mal
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(108) HR. Muslim no. 2716. Maksud berlindung “dari kejelekan apa yang belum dilakukan” yaitu meminta penjagaan Allah kepadanya agar tidak melakukan hal yang buruk dimasa mendatang atau berlindung kepada-Nya dari imbas perbuatan buruk yang dikerjakan orang lain (lihat Faidh Al Qodir 2/107)
1.Allaahumma innii a'uudzu bika min 'ilmin laa yanfa', wa min qolbin laa yakhsya', wa min nafsin laa tasyba', wa min da'watin laa yustajaabulahaa.
2.Allaahumma innii a'uudzu bika min 'ilmin laa yanfa', wa 'amalin laa yurfa', wa qolbin laa yakhsya', wa qoulin laa yusma'.
No published English translation of this dua is available, so none is shown.
Show the takhrij
(109) Yaitu jiwa yang tidak pernah kenyang mengejar dunia termasuk dalam makna doa ini juga adalah berlindung dari terlalu banyak makan dan tidak pernah merasa kenyang. (lihat Syarhu Ad-Duaa’ min Al-Kitab wa As-Sunnah karya Mahir bin Abdul Humaid hal. 415),
(110) HR. Muslim no. 2722 dari Zaid bin Arqam.
(111) Yaitu amalnya tidak diterima disisi Allah ﷻ karena tidak terpenuhi syarat diterimanya amalan dan syarat terkabulnya doa di antara syarat tersebut yang paling inti adalah Ikhlas dan Mutaba’ah (mencontoh Nabi ﷺ) dan Allah ﷻ senantiasa naik kepada-Nya amalan-amalan saleh, Allah ﷻ berfirman yang artinya, “Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya” QS Fatir : 10 (lihat Syarhu Ad-Duaa’ min Al-Kitab wa As-Sunnah karya Mahir bin Abdul Humaid hal. 541
(112) Ucapan disini termasuk didalamnya doa dan dzikir dan maksud dari “tidak didengar” adalah tidak diijabahi karena Allah adalah Dzat yang Maha Mendengar, tidak diijabahi karena tidak terkumpul padanya syarat terkabulnya doa sebagaimana penjelasan yang lalu. (lihat Syarhu Ad-Duaa’ min Al-Kitab wa As-Sunnah karya Mahir bin Abdul Humaid hal. 541) ])
(113) HR. Ibnu Hibban no.2440 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih Mawari Dzom’an 2/454 no.2066.